Latest Event Updates

Tanda Tahun Tengah Berganti

Posted on

30 Desember 2017,

Aku mau ngaca, setahun ini hal apa yang telah aku lakukan demi kemajuan diriku yang tidak akan bertambah muda. Ada yang bermasalah dalam hal konsistensi, lagi-lagi aku menunda hal yang harusnya aku lakukan demi diriku sendiri. Aku begitu terlena dengan keadaan dan fasilitas yang ada untuk aku mengulur keinginanku. Entah apa yang bisa mengantarkan aku lebih dekat dengan mimpiku jika aku terus seperti ini. Bukan aku pesimis akan masa depanku, bukan aku realistis memandang keadaanku, tapi aku hanya melakukan hal yang paling mahir aku lakukan, yaitu berdiam dan memandang, lalu berfikir. Tidak ada aksi atau reaksi yang bermakna untuk mengubah jalur hidupku. Hanya bergerak untuk hal yang paling tidak memakan energi banyak. Padahal aku sudah membaca, penyesalan orang-orang yang telah memiliki keadaan yang sangat mendukung sepertiku dan tidak bekerja keras lebih dari yang biasanya, tidak, bahkan lebih dari apa yang seharusnya dia lakukan. Dan disinilah aku, menulis tentangnya, tanpa melakukan apapun, entah apa yang tubuh ini lakukan dan kepala ini rencanakan.

Dari segi lain, aku memiliki inti permasalahan yang sama, terlalu berasumsi dan berdiam diri. Hanya melakukan hal yang aku rasa hanya memberikan senyum kepadanya. Padahal yang aku inginkan darinya bukan hanya sekedar senyuman dari balik layar gawainya, tapi senyuman itu aku lihat langsung dengan makna-makna yang aku inginkan yang dia berikan. Pada kenyataannya, aku ciut mendengar dia ‘menyindir’ orang lain di tengah percakapan kita yang seperti biasa. Aku ciut, aku patah hati, dan aku menyerah. Seperti yang aku lakukan tahun lalu. Lalu aku berfikir, apakah aku akan tetap jatuh kepada orang yang sama di tahun berikutnya? Karena tahun ini dan tahun lalu aku telah jatuh kepada orang yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Ah, terlalu frontal, walaupun aku yakin dia tidak akan membaca ini, aku juga yakin bahwa ada segelintir orang yang tanpa informasi apapun, tanpa mengenal siapa aku, akan membaca ini dan merasa kebingungan lalu berfikir “ah ngapain gue bacain beginian, gak penting”. Baiklah, segi ini nampaknya udah selesai aku bahas. Walaupun di sisi lain, ada pula keinginanku untuk belajar jatuh kepada orang lain di tahun ini, aku rela menghabiskan waktu puluhan jam demi bisa memulai percakapan dengannya, namun pada saatnya tiba, aku tetap tidak bisa bercakap apapun yang menurutku bisa membuat aku benar-benar jatuh padanya, dan dia jatuh padaku. Kemudian alasan itu hanya menjadi alasan lainnya bagiku untuk menghabiskan waktu puluhan jam itu.

Yang aku harapkan pada tahun berikutnya tidak banyak, aku hanya ingin menjadi seorang yang melakukan baik di mana aku bertanggung jawab, dapat mencapai seluruh keinginanku yang telah ku catatkan di catatan laptop ku, dan untuk mimpiku, aku mau kita berdamai dan mudahkan aku menggapaimu.

Nilai ku untuk 2017,

4.5/10

Komentar : aku adalah manusia yang buruk

Advertisements

Kala Lalu, Kala Ini

Posted on Updated on

Selamat malam, Pembaca. Mencoba kembali merasakan apa yang aku rasakan dengan jujur dan menuangkannya dengan penuh misteri dan semoga menimbulkan pertanyaan bagi pembaca. Kenapa aku mengharapkan yang membaca untuk bertanya? Aku suka membuat orang penasaran, karena aku suka menjelaskan sesuatu ketika ada yang bertanya. Rasanya aku adalah orang yang diperhatikan pada saat itu. Di waktu selain itu, hanya orang yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing, dan aku yang hanya diam memperhatikan, kadang berkomentar, dan ikut tertawa. Ya, itulah keseharian ku jika sedang dikelilingi teman-temanku. Berbeda dengan sahabat-sahabatku yang sudah ku kenal sejak lama. Eh, bukan berarti temanku yang baru tidak aku anggap sebagai sahabat. Tapi butuh waktu intens agar aku bisa ke zona di mana aku merasakan hal yang sulit ku jelaskan dengan kata-kata. Waktu intens seperti bermalam bersama dirumahku atau dia, dan/atau liburan bersama.

Baiklah, aku akan mulai mencoba yang telah aku tulis di kalimat pertama paragraf pertamaku. Ketika aku beranjak 20 tahun beberapa waktu yang lalu, terbesit dibenakku pertanyaan seperti ini, “apa yang akan aku lakukan dengan mimpiku?”. Mimpiku yang sudah ku bayangkan sejak aku berumur 13 tahun, dan apa yang telah aku lakukan dengan 7 tahun aku memegang mimpi itu? Hanya beralasan dan beralasan lagi. Selama 7 tahun bukan waktu yang sebentar untuk kembali beralasan “ah, aku kan sibuk sekolah”, “teman-teman ku saja…”, “aku masih harus belajar supaya nanti tidak memalukan diriku sendiri”, dan alasan-alasan lainnya. Rasanya ingin aku menampar diriku sendiri di umur 14, 15, 16, 17, 18 dan 19. Terutama di umur 15 dan 17. Jika aku diberikan kesempatan untuk kembali maka aku akan memilih kembali ke umurku yang 15. Rich Chigga saja bisa meledak ketika umur 16. Hidup memang penuh penyesalan.

Di balik penyesalan-penyesalan tersebut terbentuklah realita yang sedang aku jalani sekarang. Setengah tiduran, di kasurku, dengan lampu mati dan memangku laptop, mengetik postingan ini. Hal yang harus aku khawatirkan sekarang adalah masa depanku, bukan menyesali masa laluku. Selalu membuatku marah ketika aku diolok “udah gede cuman bisa segini” oleh siapapun, memang kalian pikir dengan berkata demikian, aku bisa mengubah masa laluku? memang dengan berkata demikian, aku tidak tahu bahwa aku memang payah? memang denga berkata demikian, aku tidak marah kepada diriku sendiri yang hanya bisa melakukan hanya ‘segini’? Aku tidak suka dikomentari hal-hal yang sudah jelas adanya. Seperti kalian memberi tahu ke jerapah bahwa dia memiliki leher yang panjang.

Pada intinya, aku memiliki banyak penyesalan tapi pada kenyataan yang sedang aku jalani juga aku tahu bahwa aku tidak dapat mengubah apa yang telah terjadi dan aku harus bertahan dan bertumbuh dari keadaanku yang pertumbuhannya terhitung terlambat karena aku telah memberikan terlalu banyak ‘alasan’ demi kenyamananku sendirn pada masa lalu. Segitu dulu. Semoga di tahun-tahun berikutnya ketika aku membaca ini, aku sudah tidak merasakan hal yang sama pada saat ini, karena perasaan ini sangat menyebalkan. Sekian.

 

Sincerely yours,

 

purpleskinman

Post 2017

Posted on

Malam aku menulis ini, pukul 20:36, entah kapan akan selesai. Malam. Semuanya. Aku tidak yakin masih ada orang yang membaca blogku. Mungkin akan ada dan ramai beberapa waktu lagi, semoga, dan semoga. Perasaanku malam ini sungguh tidak dapat ku jelaskan, aku bukan tipikal orang yang bisa menuangkan perasaan dan pikiranku dengan sesuai dengan apa yang benar-benar terjadi dikepala dan dihatiku. Satu hal yang aku tahu, dan benar-benar aku tahu telah aku tuangkan di buku harianku dengan tulisan tanganku. Sekarang yang ingin aku tulis di laman ini mungkin tidak akan ada garis besarnya, tapi jika kalian bisa menemukan garis besarnya, dengan interpretasi kalian masing-masing aku sangat ingin tahu apa yang terjadi padaku di mata kalian. Aku merasa bahwa aku harus segara menulis karena aku mulai merasa isi kepalaku akan meledak jika aku tidak menuangkannya di dalam tulisan. Itulah alasan mengapa postingan aku hari ini tidak akan ada inti dari ceritanya, hanya aku menulis hal yang ada di kepalaku. Mungkin aku butuh paragraf baru.

Aku rasa hampir satu tahun aku tidak mengunggah tulisanku disini. Bukan karena aku sibuk atau apa, aku hanya kembali merasa bahwa menulis perasaanmu di internet adalah hal yang sia-sia, tapi perasaan itu tidak bisa bertahan lama, lihat saja hanya dalam waktu sembilan bulan aku sudah kembali menulis di sini. Tahun lalu aku mencoba gaya menulis dengan memiliki tujuan, hasilnya memang bagus, menurutku, karena aku terlihat lebih fokus dalam suatu hal. Walaupun pada kenyataannya isi kepalaku selalu bercabang, bukan hanya dua kadang tiga bahkan empat. Itu dalam keadaan aku yang sedang baik-baik saja, ada kalanya aku sedang tidak baik dan pikiranku bercabang menjadi enam. Sungguh rumit.

Tadinya aku rasa aku akan menulis sangat banyak hari ini, ternyata hanya segini yang aku bisa. Lain kali ingatkan aku untuk membahas kenapa aku menggunakan bahasa baik seperti ini tidak seperti unggahan sebelumnya. Sekian, aku membutuhkan, wah aku malas menghitung, sekarang pukul 21:11, aku harus lekas istirahat. Selamat malam.

Akhir Tahun, Akhir dari yang Lama?

Posted on

Hey guys, ini Desember. Bulan terakhir dari tahun ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, atau tahun yang akan datang. Kira-kira, hal apa yang bisa dilakuin di penghujung tahun kaya gini? Pastinya sih banyak ya, secara bulan ini kampus gue libur (sebentar lagi, ini masih UAS). Rencana gue di bulan Desember itu cukup sedikit, yaitu liburan bareng keluarga ke Bali dan ketemu temen-temen SMA, gak semuanya, hanya beberapa aja. Walaupun ada niatan untuk nemuin sebanyak mungkin dari mereka. Gue meluangkan 4 hari dan 3 malam di Bandung. Gak mengharapkan jumlah temen yang banyak kok, sekitar 5-10 orang juga udah lumayan, tapi bakal lebih seneng kalo bisa ketemu lebih banyak sih.

Oiya, mengingat kebelakang, gue ini orang yang cukup ansos dengan lingkaran pertemanan di SMP dan SMA. Dengan semua cerita yang udah gue ceritain di blog ini, mungkin ini refleksi akhir tahun ya. Bukan mau merefleksi kejadian setahun terakhir melainkan merefleksi diri secara menyeluruh di bagian pertemanan. Kalo bener-bener menyeluruh bakal terlalu melelahkan untuk diketik. Oke, gue akan bercerita mengenai refleksi gue yang sudah berumur 19 tahun 4 Oktober lalu (yay!).

Jadi, refleksi ini mulai gue sadari ketika sedang bermain dengan teman SMP gue beberapa waktu yang lalu. Mereka bercerita dengan heboh mengenai temannya yang lain yang gue kenal juga, dari mendengarkan cerita mereka gue kagum dengan pencapaian orang-orang yang diomongin ini, dan gue berpikir “Kok gue gak pernah tau sisi ini dari mereka ya?” karena selama ini gue tau keburukan mereka. Gue berasumsi bahwa jika dalam pertemanan, kita udah tau keburukan temen yang lain itu artinya kalian udah deket. Ternyata malam itu gue diingetin bahwa asumsi tersebut adalah salah. Hmm, kayaknya ada yang berantakan deh penjelasannya. Oke, ulangi.

Gue punya asumsi bahwa di dalam pertemanan, jika seorang teman sudah hafal betul tentang keburukan teman yang lain artinya mereka memiliki ikatan yang kuat. Dengan memiliki asumsi yang sedemikian rupa membuat gue luput dari kebaikan, pencapaian luar biasa yang mereka raih dengan cara meremehkan kebaikannya seperti “alah, dia emang baik tapi buruknya bangsat banget” pandangan sebelah mata kepada teman yang notabene-nya sangat dekat. Asumsi itu gue sadari salah ketika gue tercengang dengan pertukaran informasi tentang prestasi teman-teman gue yang luar biasa itu. Bagaimana  gue dengan sombong merasa punya teman padahal yang gue bilang teman itu cuman orang yang gue anggap sebelah mata. Semenjak itu gue merasa udah sombong banget dan mencoba koreksi diri lagi.

Masih pada momen yang sama, gue terlalu asyik mendengarkan percakapan mereka yang seru banget itu tiba-tiba salah satu dari mereka ngomong “Hey, dari tadi kita aja yang ngomong. Lo cerita dong, Noy!”. Gue ketawa, gue gatau mau cerita apa. Akhirnya gue bercerita tentang hubungan gue dengan orang yang dari tadi mereka ceritain. Sangat tidak menarik sampe-sampe mereka membahas hal lain. Gue ketawa di dalem hati. Sepayah itu gue dalam berkomunikasi. Padahal gue yakin, cerita yang gue ceritain itu lumayan menarik kok. Hanya penyampaiannya aja yang terlalu kepada intinya, jadi ceritanya ga ada dinamikanya. Untuk masalah ini masih belum ada solusinya.

Jadi ga semangat melanjutkan karena kepikiran masalah social-skill itu. Baiklah. Ternyata kelihatannya sampai tahun depan gue masih berkutat dengan masalah yang lama. Akhir tahun ini masih belum bisa mengakhiri yang lama. Semoga, semoga dan semoga.

Ekspektasi

Posted on

Ekspektasi itu ga jauh dari kekecewaan karena di masa ekspektasi ga ketemu sama realita itu yang dirasain cuman kecewa. ya, ga cuman itu sih. Sakit, marah dan lain-lain yang negatif. Jelas, soalnya kalo ekspektasi ga ketemu realita itu ga mungkin kita seneng sama aja kaya jatoh dari sepeda itu rasanya sakit, bukan enak. Oke, cukup ngelanturnya sebelum lebih jauh. Disini gua cuman pengen cerita sedikit tentang ekspektasi gue terhadap apapun setelah beberapa penglaman ekspektasi gua ke beberapa orang.

Mungkin gue harus mulai dari pengalaman ekspektasi yang ga sesuai itu dulu ya, ada beberapa kejadian yang bikin gua punya pandangan sendiri mengenai ekspektasi itu; ini beberapa diantaranya

Cerita yang bakal gua tulis ini mungkin akan ga sesuai dengan kenyataannya karena kejadian-kejadian ini udah relatif lama dan pasti ada distorsi memori dari otak gua yang punya mekanisme mengingat sesuatu yang pait dengan sangat buruk

1. Oke, gua akan mulai dari yang terlama dan mungkin paling ngelantur. So, kalo ini ga sesuai dengan diingatan orang yang bersangkutan. Gua minta maaf, ini yang gua inget di otak gua. Gua ini orang yang pada dasarnya emang ga percaya dengan kata-kata perpisahan seperti “Kalo udah lulus jangan lupa temen”, “Jangan sombong sama temen lama”, hal-hal semacam itulah tapi gua punya perasaan kalo gua ini paling klop sama temen-temen smp gue. Tapi, pas kita lulus-lulusan kata-kata itu ga keluar dari mulut gua, dan gua ga sedih sama sekali waktu tau bakal ninggalin mereka (selain karena gua jaga imej, gua juga orangnya naif banget gamau keliatan sisi melankolisnya di depan temen-temen smp gue…sama aja ya) apalagi gua bakal pindah ke kota yang jauh. Eh, tunggu, waktu smp gua juga emang bukan yang disukain semua orang. Especially, sama lingkaran pertemanan tertentu (walaupun begitu mereka masih mau kok temenan sama gua, idk why). Kemudian sekolah lah gua di Bandung, secara ulang tahun gua itu tanggalnya seringkali mepet sama uts. Jadi waktu itu gua ada waktu lengang dan bisa pulang ke Tangerang. Gua pengen dong nraktir temen-temen smp gua, sekalian ketemu. Gua juga bisa kangen sama mereka. Waktu itu masih jaman BBM, jadi gua BBM-in temen-temen yang pengen gua traktir, dan mereka ga ada yang respon baik. Responnya cuman “dateng aja ke sekolah”, rata-rata begitu. Gua udah biasa aja tuh, waktu itu di pikiran gua “Oke, gua kesekolah” dianterin om gua waktu itu, di drop dengan pikiran gua bakal lama dan gaenak kalo ditungguin. Pas gua sampe ke SMP gua, mereka udah pada cabut masing-masing dan ga bisa dihubungin. Ada sih yang bisa dihubungin, tapi ya sibuk juga. Jadi gua dengan kecewa udah bawa uang yang cukup banyak buat nraktir mereka dan pulang naik angkot dengan segumpal kekecewaan (lebay juga) ya pokoknya yang baca taulah rasanya.

2. Yang kedua ini gua masih ga bisa nentuin siapa yang naif. Jadi waktu kenaikan kelas SMA ke kelas dua itu gua sakit yang ga parah-parah banget sih, cuman susah makan, sering muntah, pusing berat sampe ga puasa doang, ga sampe di rawat di rumah sakit. Waktu itu gua berharap banget orang tertentu buat ngejenguk gua, atau seenggaknya ‘show some affection I needed’. Emang kedengerannya muluk-muluk, tapi ini adalah hal yang pasti banget gua lakuin kalo orang yang gua sayangin itu sakit. Like, seriously. hal apa yang dia lakuin ke gue? Well, orangnya pasti baca blog ini kok. Biar dia dan gue aja yang inget. Walaupun ingatannya bakal beda (nginget tanda merah diatas).

sebenernya 2 itu udah cukup buat ngancurin ekspektasi gua ke orang lain, temen maupun pacar. Ekspektasi terpenting yang udah ilang itu terlalu privasi juga untuk diceritain. Mungkin kalo ada orang yang baca ini dan kebetulan punya waktu sama gua (biasanya malem) pasti kita bahas ini. Ada beberapa orang yang udah gua ceritain karena kita waktu itu ke Jogja bareng selama seminggu dan semuanya udah kebongkar.

Tapi gua punya yang ke-empat, jangan kecewa dulu kawan. Hal ke-empat inilah yang bikin gua termotivasi untuk nulis dan post blog ini pada hari yang sama.

Jadi hari ini adalah hal yang sangat kecil yang ga pernah gua antisipasi sebelumnya, yaitu ekspektasi ke sesuatu yang kita sukai, pada kasus ini klub bola favorit. Hari ini Manchester United kalah sama Wattford, klub yang reputasinya menengah kebawah. Kalahnya ga nanggung, 3-1. Lucu ya? udah gede masih kecewa sama yang kaya ginian? I thought so too. aneh, tapi bener. Gua kecewa sama hasil itu. 

Jadi, pengalaman-pengalaman ini ngajarin gua untuk “give zero expectation to anything, anyone regardless their status or their matters to you, anywhere.”

Emang kesannya kejam dan ga ngasih kesempatan untuk orang lain buat menuhin ekspektasi gua, tapi aslinya engga kok. Aslinya gua jadi easy to please banget orangnya. Soalnya gua ga naro apa-apa ke orang-orang yang berinteraksi sama gua. Get it? alright, let’s wrap it. Thanks for reading, feel free to share guys.

A Little Letter to Myself in Near/Far Future

Posted on

(Berikut ini bukan pengalaman semua orang, tapi ini cuman bercerita dari sudut pandang penulis)

 

Ketika hidup udah ngelewatin masa-masa sekolah yang gue rasain terhadap cinta itu berubah. Berubah sejadi-jadinya. Dulu pas masih sekolah, ngeliatan orang yang kita suka itu rasanya seneng, ngobrol sama orang yang kita suka itu rasanya deg-degan setengah mampus, apa lagi berhasil bikin dia ketawa dengan jokes yang malemnya lu baca di 9gag itu rasanya udah kaya megang pintu surga. Liat senyumnya yang khusus buat lo, suara ketawanya yang ga enak-enak amat jadi kedengeran kaya suara wanita paling anggun sedunia. Sob, semuanya berubah pas gue udah ga sekolah. Kampus itu bukan tempat nyari pacar, apa lagi buat nge-gebet cewe yang tujuannya ga jelas-jelas amat. Walaupun ga berarti di kampus itu kaku, tetep aja ga bisa pake rasa cinta yang waktu sekolah rasanya berbunga-bunga lebay ga karuan.

Selain ekspresi cinta yang ga sama itu, bener-bener rasa sayang dari orang yang pernah kita suka di masa sekolah ini sampe sekarang ga berubah dan ga bisa digantiin. Entah apa yang gua lakuin, dia lakuin, memori apa yang ada di otak gue tentang dia pas masa sekolah itu ga bisa buat gue berani ngambil langkah baru dalam masalah percintaan. Bukan berarti gue ga buka hati untuk orang baru yang mungkin belum gua temuin atau apa. Otak ataupun hati yang ngatur ini, gua sangat tertutup dengan hal baru tapi takut untuk nyembuhin luka lama untuk masalah perempuan. Jadinya ga ada pergerakan untuk melakukan hal baru dengan orang yang baru maupun memaafkan luka lama yang buat gue cacat. Mungkin bahasannya terlalu gelap, maaf, tapi dua bulan ini gua udah nahan banget buat ga ngepost sesuatu yang negatif ke blog ini tapi gua punya pikiran sebagai berikut; bahwa yang gue rasain ini sifatnya sementara (walaupun entah kapan bakal berakhir), gua mau pas gua udah bisa ngelewatin masa ini, gua ga lupa dengan perasaan gua sekarang. Gua juga mau tau apa yang bakal gua rasain nanti pas gua baca postingan ini lagi, 1 tahun, 2 tahun bahkan 5 sampai 10 tahun lagi gua lagi buka-buka postingan lama di blog ini dan membacanya?

Apa yang kira-kira bakal gua bilang ke diri gua yang baca ini di masa depan? Selamat? atau hal lainnya?  Who knows.

 

btw, gue nulis ini lagi patah hati. Bukan karena diputusin pacar, bukan. Bukan kenapa-napa. Gue cuman nyeselin hal-hal yang dulu ga gue lakuin di sekolah.

Tantangannya adalah, ketika lo baca ini, masih ada ga hal yang bikin lo nyesel karena ga ngelakuin apa-apa? Kalo masih ada, lo masih payah.

Pertanyaan-pertanyaan Besar dalam Kehidupan Ninoy Santos

Posted on

Hey guys!

Udah sebulan yang lalu dari terakhir gue posting blog, kali ini gua mau cerita tentang diri gua (seperti biasa). Sekarang ini gua lagi dalam masa kosong di mana gua sendiri bingung sama apa yang harusnya gua rasain. Ya, ini bukan pertama kalinya tapi bukan berarti gua tau kenapa bisa begini. Setiap kali ngerasain begini, gua ga pernah bisa dapetin jawaban yang pas dan sesuai dengan perasaan yang gua rasain. Kenapa? Coba kita bahas;

Jadi gini, gua ngerasa punya masalah sama hati gua. Rasanya tuh, bukan kosong. Kalo kosong, lo tau hati lo ada, tapi ga ada isinya. Sekarang ini, gua ga tau gua ini masih punya hati atau engga. Sebagai manusia yang punya perasaan, gua ini terlalu statis sama perasaan itu. Gua bisa ngerasain sedih, seneng, marah, takut dan semua emosi itu tapi yang gua rasain itu kaya sekedar teori, gua ga bisa meresapi rasa-rasa tersebut sampe ke hati, sampe ngerasain apa itu artinya sedih, gimana reaksi orang yang marah. Gua cuman paham rasanya gimana, tapi tindakan gua seperti ada yang ngebatasin untuk mengekspresikan rasa itu.

Gua sangat terbiasa dengan pembatasan ekspresi tersebut.

Oke, gua ilustrasiin diri gua sebagai telor ayam yang ga dikerem. Mereka punya dua bentuk, yang keras, dan yang cair. Sisi kerasnya sangat rentan, beda sama punya gua. Sisi keras gua ini udah kaya Vibranium-nya Captain America ga ada lawan. Paham kah? Semoga. Gua ini sangat sensitif secara kasat mata, karena gua tau betul apa yang gua rasain dan sering kali gua paham betul sama apa yang orang lain rasain tapi yang gua tau itu haya sekedar tau. Perasaan itu hanya sekedar pemikiran gua yang ada di kepala. Sebagai aksinya, nol besar, kadang malah saling bertolak belakang. Anehnya, gua ga tau sampe sekarang, apa yang ngehalangin perasaan gua sampe sebegitunya. Kenapa perasaan gua ga bisa keluar dengan mulus ke permukaan dan bikin gua sebagai orang yang lebih jujur ke dirinya sendiri.No matter how bad who I really am. Gua mau tau what it takes being me? Bisa ga gua punya temen lebih banyak dari sekarang? Atau sebaliknya, apa orang-orang bakal benci gua?

Di sisi lain, gua mikir bahwa, yang ada di permukaan itu bener-bener siapa diri gua yang sebenarnya. Tapi, kalo pernyataan itu bener. Siapa yang ada di dalem? Yang ngerasain perasaan sedih, seneng, marah dan lain lain itu siapa? Pertanyaan-pertanyaan ini ga bisa gua jawab selama gua ngerasain ini, sekitar tiga atau empat tahun terakhir ini. Gua mulai ga sabar, gua mulai mengabaikan konsep waktu yang menjawab unanswered question. Tapi harus mulai dari mana?